Pengantara Ketua KPK: Kami Cuma Umumkan Hasil Tes, Tidak Ada Pemecatan Pegawai

Bonus harian di Keluaran SDY 2020 – 2021.

Merdeka. com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan hasil tes wawasan kebangsaan (TWS) terhadap 1. 351 pegawai lembaga antirasuah sebagai syarat menjadi aparatur sipil negara (ASN).

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron menuturkan, sejak 1. 351 pegawai, 75 di antaranya tak lucut uji TWK. Ghufron memastikan tak pernah mengumumkan bakal adanya pemecatan terhadap personel yang tak lulus uji TWK.

“Kami hanya mengumumkan hasil TWK, dan tidak ada pelepasan kepada siapapun pegawai KPK, ” ujar Ghufron saat dikonfirmasi, Minggu (9/5).

Ghufron mengaku tidak akan melempar tanggung jawab terkait hasil uji ulangan wawasan kebangsaan (TWK) yang dijalani pegawai lembaga antirasuah sebagai syarat menjadi aparatur sipil negara (ASN).

Dia menyatakan itu karena berkaitan dengan pemberitahuan yang menyebut KPK akan berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian Nasional (BKN) dan Kemenpan RB untuk menentukan metode terhadap 75 pegawai yang tak lulus TWK.

“Hal ini bukan kami melempar tanggung berat, namun untuk menyamakan kesan dan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga yang perintah dibidang aparatur sipil negeri, ” kata Ghufron.

Menurutnya, koordinasi secara BPN dan Kemenpan RB lantaran dua lembaga tersebut merupakan lembaga yang mengurus soal status ASN. Tengah KPK merupakan lembaga penegak hukum yang mengatur kepegawaian secara otonom dan berbeda dengan ASN.

“Secara materiil, mengapa tersebut kami lakukan, karena tersebut semua adalah proses dasar yang didasarkan pada pengetahuan dan kondisi hukum sebelum adanya putusan MK akan uji materi dan formil terhadap UU 19/2019, ” kata Ghufron.

Diketahui, sebanyak 75 personel KPK tak lolos tes TWK. Sebagian pihak menyuarakan TWK ini bertujuan menyingkirkan pegawai KPK yang berintegritas lantaran soal-soal yang menjelma dalam TWK dianggap janggal dan tak berkaitan secara pemberantasan korupsi .

Sempat beredar juga informasi jika 75 pegawai yang tidak lolos TWK akan dipecat. Namun sejauh ini KPK menyatakan belum menentukan kadar ke-75 pegawai tak lolos menjadi ASN tersebut.

Untuk diketahui kalau beredar kabar bahwa terdapat 75 orang pegawai KPK yang dinyatakan gagal dalam TWK tersebut, 2 orang tidak mengikuti dan sebesar 1. 274 orang yang dinyatakan lolos tes.

Direktur Sosialisasi serta Kampanye Anti-Korupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Giri Suprapdiono mengungkapkan identitas pegawai KPK yang masuk dalam 75 orang tak lolos ulangan wawasan kebangsaan. Dia mengaku salah satu pegawai yang dinyatakan tidak lolos. Selain itu, ada nama penyidik senior KPK Novel Baswedan.

“Kurang lebih sama nama-nama yang beredar di media. Salah satunya Novel Baswedan, ” kata pendahuluan Giri dalam diskusi Kontroversi Trijaya Dramaturgi KPK, dalam Jakarta , Sabtu (8/5).

Kemudian pegawai yang tidak lolos terdiri dari penguasa di eselon 1, 3 pejabat di eselon dua, Kepala Biro SDM, Kabag Perancangan Perundang-undangan, hingga Kabag SDM. Termasuk hampir seluruh Kasatgas dan seluruh pemimpin inti dari Wadah Personel KPK.

“Menariknya hampir semua kasatgas yang berasal dari KPK, tujuh kasatgas penyidikan, dan perut kasatgas penyelidikan juga bagian dari 75 itu sebetulnya. Dan seluruh itu medan pegawai dan ada banyak orang sudah kita cukup tahu baik, ” bebernya.

Dia menjelaskan Kasatgas yang tidak lolos itu saat ini sedang menggarap kasus besar. Seperti Roman Baswedan yang sedang mengatasi terkait kasus korupsi bahari di KKP, Andri Nainggolan saat ini mengusut kejadian bansos.

“Beberapa penyidik yang memang telah menangani kasus-kasus yang besar dan sebenarnya mereka-mereka pantas menangani kasus yang tidak bisa disampaikan kepada umum saat ini, ” katanya.

Giri mengiakan ada beberapa pertanyaan yang tidak pantas dipertanyakan pada pegawai KPK keluar saat tes wawasan kebangsaan (TWK). Tes tersebut sebagai kondisi peralihan status pegawai menjadi aparatur sipil negara (ASN).

Salah satunya terkait diarahkan kepada personel KPK perempuan, di mana pegawai ditanyakan kesediaan membuka jilbabnya atau tidak dengan membuat hatinya geram.

“Bahwa ada dengan ditanya dan menurut saya yang paling membuat besar saya bergejolak, adalah tes coba misalkan apakah anda bersedia mencopot jilbab? tersebut menurut saya keterlaluan. Kemudian ada pernyataan, anda egois dong tidak mementingkan kepentingan negara? Kalau itu egois dan keterlaluan menurut saya, ” bebernya dalam diskusi Polemik Trijaya Dramaturgi KPK, di Jakarta, Sabtu (8/5).

Tidak cuma itu, Giri juga mengindahkan terdapat pertanyaan yang lebih sensitif dari beberapa pertanyaan sebelumnya yang membahas perkara pernikahan dan pacaran. Lalu pegawai lajang pun dipertanyakan pada saat tes tersebut.

“Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak selayaknya ditanyakan, karena ini tes paham kebangsaan. Jadi kalau kesayangan kepada republik ini kok dipertanyakan lagi, kita menyelamatkan republik ini dari republik ini kenapa dipertanyakan teristimewa, ” bebernya.

Dia juga menyebut tersedia beberapa pihak ditanya terkait keagamaan. Salah satunya terpaut mengucapkan hari raya luhur agama lain.

“Ada yang mengaku begitu, bahkan saya bertanya tepat ada yang ditanya apakah mengucapkan natal dan natal kebetulan keluarga yang ditanya campuran, pluralisme jadi tenteram. Tetapi Sebetulnya enggak apa-apa, istilah ini untuk menilai beberapa sikap tapi tersedia yang enggak patas dipertanyakan, ” ungkapnya.

Reporter: Fachrur Rozie
Sumber: Liputan6. com [noe]