Diduga Jadi Korban Penembakan, Tiga Pemuda di Makassar Dilarikan ke RS

Diduga Jadi Korban Penembakan, Tiga Pemuda di Makassar Dilarikan ke RS

Merdeka. com porakporanda Tiga pemuda warga RT 02/RW O3, Kelurahan Pattingaloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara. Itu diduga menjadi korban penembakan dengan terjadi Minggu (30/8) pukul 02. 00 WITA. Ketiganya masih melaksanakan perawatan di ruang IGD RS Bhayangkara. Satu diantaranya dalam kedudukan kritis karena luka parah dalam bagian kepala.

Kepala RW 03 Nuraini, (51), yang ditemui di RS Bhayangkara menuturkan, ketiga pemuda itu masing-masing Anjas, (23), Ammar, (18) dan Iqbal, (22).

“Pagi tersebut ketiganya masih di ruang IGD. Tapi salah satu diantaranya, Anjas sekarang kritis, luka di kepala. Kalau Iqbal, luka di berleha-leha dan pelurunya masih tertinggal pada kaki. Kalau Ammar, juga luka di kaki tapi tembus. Aku bilang diduga korban tembak karena ada yang terluka dan pelurunya masih tertinggal, ” tutur Nuraini.

Soal kronologi kejadian, Nuraini belum mengetahui secara positif. Dia bercerita dirinya dibangunkan sebab anaknya karena ada suara tembakan. Setelah keluar rumah dan menghalusi ke warga, ternyata ada 3 orang yang sudah terluka.

“Kami bawa ke RS Jala Ammari TNI AL tapi di sana ditolak dengan alasan tidak ada yang bisa operasi. Oleh karena itu dibantu anggota Bhabinkantibmas, kami bawa korban ke RS Bhayangkara. Sampai di RS Bhayangkara, katanya tak melayani KIS, saya juga panik. Akhirnya ada polisi tawari uang Rp2 juta, katanya untuk biaya pengobatan, ” tutur Nuraini.

Dia menyebut tidak ada tawuran atau bentrokan pada Minggu dini hari. Tiba-tiba saja pemuda dengan duduk-duduk di lorong malam mingguan terluka, diduga terkena tembakan. [ray]

Jalan Perusakan Mapolsek Ciracas dan Pemerasan 2 Polisi

Jalan Perusakan Mapolsek Ciracas dan Pemerasan 2 Polisi

Mandiri. com – Markas Ke polisi an Sektor (Mapolsek) Ciracas, Jakarta Timur, diserang oleh gerombolan orang tidak dikenal sekira pukul 01. 00 WIB, Sabtu (29/8). Pelaku merusak fasilitas dan juga beberapa bagian kendaraan, salah satunya milik Wakapolsek Ciracas.

“Malam tadi sekitar jam 1 lewat lah yah, hampir jam 2 itu ada sekelompok orang tak lumrah datang melakukan penyerangan, perusakan pada Polsek Ciracas kurang lebih kira-kira 100 orang lah keterangan bukti yang ada, ” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus usai dihubungi merdeka. com, Sabtu (29/8).

“(Naik motor) Iya, ” sambungnya.

Yusri yunus melanjutkan, 100 orang yang tak dikenal itu juga merusak mobil milik Wakapolsek Ciracas. “Kemudian merusak ada dua kendaraan, dipecah kacanya, satu bus, satu mobil jawatan. Kemudian membakar dua mobil, mulia mobil patroli, satu mobil Wakapolsek, terus merusak kaca lah kaca Polsek ini, ” katanya.

Usai merusak, para karakter ini meninggalkan lokasi. Saat dalam jalan, mereka bertemu polisi yang tengah patroli. Orang tidak dikenal tersebut kemudian melakukan penganiayaan.

“Kejadian kemudian mereka sesudah itu di jalanan berpapasan secara ada anggota lagi patroli, Sabhara sama Pam Obvit, kemudian dianiaya. Sekarang ini anggota tersebut dirawat di rumah sakit. Iya besar orang, tapi di jalan ya bukan di sini, bukan di Polsek, di jalanan lagi patroli. mungkin berpapasan dengan kelompok mereka ini, ” bebernya.

Terkait kejadian ini, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman mendatangi lokasi.

“Kemudian sekarang ini lagi melaksanakan olah TKP. semua tim, di sini ya olah TKP belakang kita tunggu saja hasilnya. Ada Kapolda dan Pangdam Jaya serupa hadir di sini, ” pungkasnya. [cob]

44 WNA di Jakpus Melebihi Kerelaan Masa Tinggal

44 WNA di Jakpus Melebihi Kerelaan Masa Tinggal

Merdeka. com – Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Jakarta Pusat Barron Ichsan mengatakan telah menangkap 44 Warga Negara Asing (WNA) yang seluruhnya melanggar Peraturan Keimigrasian yakni melebihi izin kala tinggal atau overstay.

“Dari operasi yang dilaksanakan. Tim Pengawasan Orang Asing (Pora) praja administrasi Jakarta Pusat berhasil menyembunyikan 44 orang WNA, seluruhnya laki-laki, ” ujar Barron di Biro Imigrasi Jakarta Pusat, Kamis (28/8) malam.

Operasi dengan digelar Tim Pora Kantor Imigrasi Jakarta Pusat itu dilakukan pada kos-kosan di Kelurahan Kartini, Ladang Besar pada Kamis malam sebetulnya pukul 19. 00 WIB. Letak itu dipilih karena seringkali menjadi tempat tinggal sementara bagi para masyarakat asing yang menetap di Jakarta Pusat.

Dari 44 WNA yang dijaring sebanyak 23 orang di antaranya berasal daripada Afrika dan tidak memiliki kelengkapan dokumen perjalanan ataupun paspor. Jadi selain diduga melanggar izin tinggal sementara, mereka pun diduga menyelenggarakan Pelanggaran Keimigrasian pasal 119 dan/atau pasal 116 juncto 71 bagian (B).

Sementara sisanya yaitu 17 warga negara Nigeria, 2 warga negara Pantai Gading, dan 2 warga negara Senegal memiliki paspor atau pun dokumen perjalanan namun tetap melanggar preskripsi masa izin tinggal atau overstay yang tercantum dalam pasal 78 Undang-Undang nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian.

“Sebagian besar ini melebihi satu tahun over stay-nya, ” kata Barron.

Barron mengatakan para WNA yang memiliki paspor namun melebihi batas izin tinggal sebab imbas dari Covid-19 seharusnya melangsungkan pelaporan ke kantor imigrasi.

“Karena kami telah mempersiapkan fasilitas izin tinggal darurat buat para warga asing yang tidak bisa pulang ke negaranya, tapi sepertinya ini tidak dilakukan oleh mereka yang ditangkap, ” perkataan Barron membeberkan alasan para WNA itu seharusnya melaporkan keberadaannya walaupun izin tinggalnya telah habis.

Lebih lanjut, Barron mengutarakan pihaknya akan membawa puluhan WNA itu ke Direktorat Jendral Imigrasi untuk ditampung sembari melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Rencana malam ini kita akan serahkan ke Ditjen Imigrasi dulu sebab ruang detensi kami terbatas, ” ujar Barron. [eko]

Singapore Travel Tips – 3 Major Things To Refrain From Giving In Singapore

Winning at the horse races and the straight win bet are synonymous because a straight bet is called a win bet. But there is also another ways to wager on a horse and collect money for likely to result. A person are want to make money betting on horses you in order to shopping around and for the different solutions to make cash on a victorious.

Tourist places of interest. There are many tourist attractions in Singapore including newly built Singapore Flyer, Sentosa, War Memorial and the Singapore Zoo park. Recently, data sgp government has just approved to open the first casino following. It will be located at fresh integrated resort (IR), and also in the midst of construction and projected regarding ready by 2010.

A simple solution might be to review your list of columns individually and eliminate until you choose on a few choices a person consider just like Hobbies and interests which within your capabilities.

Street – This is three number Bet allows one for an entire row on the table. One wins if any within the three numbers come upward. One gets paid at 11:1.

Even or Odd Bet – In Roulette live one would be wise to guess or possibly a next number coming up would be even or odd. Site as well, if 0 or 00 shows up, one will lose. The payout is at 1:1.

In Singapore, you will never need to worry about boring ambiance. At night, you can visit Clark Quay which is famous great reason dinner and night pimples. It is a place with many trendy restaurants and night clubs. You can enjoy a night of fun and drinks within your friends at that point.

The influence? Other airlines has been playing catch up and strive to portray that their service is usually as good. Not very many has was successful. When it comes to the perception of top notch, luxurious service, SIA being at greatest. In fact it is seen as the benchmark of exceptional service, even in other businesses.

Focus exactly what will a person stay in the overall game you really have to evaluate every move on every card that is played. Watch everything that goes on how your opponents react towards the pre-flop, the flop, the turn and the river bankcard. When you play enough hands you place to do this naturally functional than an ordinary nothing like experience. You have to practice watching what others do before choose to what an individual might be going you should do. Just remember how much will the opponent pay you with his worst finger.

Pasti Covid-19, Tiga Tahanan di Kuansing Melarikan Diri

Pasti Covid-19, Tiga Tahanan di Kuansing Melarikan Diri

Merdeka. com – Tiga tahanan di Mapolres Kuantan Singingi (Kuansing) melarikan diri. Ketiga pelaku kejahatan berbagai kasus kejahatan itu ternyata positif Covid-19 yang sedang menjalani isolasi.

Kapolres Kuansing, AKBP Hengky Poerwanto menjelaskan tiga tahanan itu terdiri dari satu tahanan dengan peristiwa pencurian berinisial SP dan perut tahanan Kejaksaan Negeri Taluk Kuantan yang masing-masing berinisial I dan U dengan kasus penggelapan.

“Mereka melarikan diri sekitar pukul 05. 00 Wib secara melompat melalui jendela bagian arah. Sebelumnya, mereka melepas borgol dengan sesamanya, ” kata Hengky, Rabu (26/8) malam.

Mulusnya aksi ketiga tahanan itu, kata pendahuluan Hengky, diduga lantaran petugas dengan berjaga tertidur. Saat itu tersedia 9 petugas yang berjaga yaitu 5 dari Polri, 2 karakter dari Kejaksaan, serta 2 orang dari pihak lapas.

Menurut Hengky, sebelumnya Polres Kuansing mengisolasi 19 tahanan yang dinyatakan positif covid-19 di gedung serbaguna Polres Kuansing. Isolasi ini dilakukan sejak 14 Agustus 2020 berserakan.

“Itu terdiri 3 orang tahanan Lapas, 15 karakter tahanan kejaksaan dan 1 karakter tahanan Polri, ” jelas Hengky.

Sementara pada 23 Agustus 2020 lalu, sebanyak 8 orang tahanan telah dinyatakan segar. Sehingga tinggal 11 orang lagi. Namun dari 11 orang dengan tersisa 3 orang melarikan diri subuh tadi. Jadi, kini letak 8 orang yang diisolasi.

“Saat ini kita tengah melakukan pencarian terhadap ketiganya. Hendaknya saja mereka sebagai OTG telah sembuh. Karena sudah 16 keadaan dari tanggal pengambilan swab PCR pertama, ” tandasnya. [eko]

Diperiksa 12 Jam, Tommy Sumardi Dicecar Soal Suap ke Dua Jenderal Polri

Diperiksa 12 Jam, Tommy Sumardi Dicecar Soal Suap ke Dua Jenderal Polri

Merdeka. com – Pemeriksa Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri telah memeriksa Tommy Sumardi (TS), tersangka kasus dugaan suap pada dua jenderal petugas yakni Brigjen Penuh Prasetijo Utomo dan Irjen Penuh Napoleon Bonaparte selama hampir 12 jam. Kepala Biro Penerangan Kelompok Divisi Humas Polri Brigjen Penuh Awi Setiyono mengatakan tersangka Tommy menepati janji untuk hadir di pemeriksaan. Awalnya, Tommy dijadwalkan untuk diperiksa pada Senin (24/8).

Selain Tommy, penyidik keadaan ini juga memeriksa tersangka Brigjen Prasetijo dan Irjen Napoleon.

“Tersangka TS dicecar pertanyaan oleh penyidik kurang lebih 60 pertanyaan. Tersangka PU ditanya sekitar 50 pertanyaan dan tersangka NB dicecar kurang lebih 70 pertanyaan, ” kata Awi di Bareskrim Polri, Selasa (25/8).

Menurut dia, pertanyaan diajukan pemeriksa kepada tiga tersangka ini tidak jauh berbeda dengan materi yang ditanyakan kepada tersangka Djoko Soegiarto Tjandra dalam pemeriksaan sehari sebelumnya.

“Terkait dengan pertanyaan apa saja yang disampaikan pemeriksa kepada para tersangka, tentunya tak jauh berbeda seputar pemberian suap pengurusan pencabutan red notice Djoko S Tjandra, ” ujarnya.

Usai menjalani pemeriksaan, Tommy dan Napoleon tidak ditahan oleh penyidik karena keduanya bersikap kooperatif selama menjalani pemeriksaan.

“Dari keterangan penyidik, kedua tersangka kooperatif dalam pemeriksaan, ” kata Awi.

Sementara Prasetijo memang sudah ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus asing yakni kasus surat jalan palsu Djoko Tjandra.

Sebelumnya, Bareskrim telah menetapkan Djoko Tjandra sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan penghapusan red notice Djoko Tjandra. Selain itu, penyidik juga menetapkan status tersangka kepada Tommy Sumardi, Brigjen Prasetijo Utomo & Irjen Napoleon Bonaparte.

Dalam kasus ini, Djoko Tjandra dan Tommy Sumardi diduga berlaku sebagai pemberi suap, sedangkan Brigjen Prasetijo dan Irjen Napoleon sebagai penerima suap. [eko]

Guru Ngaji Cabuli Tiga Anak Didik dengan Dalih Melatih Napas

Guru Ngaji Cabuli Tiga Anak Didik dengan Dalih Melatih Napas

Merdeka.com – Seorang guru ngaji berinisial FS mencabuli tiga anak didiknya yang berinisial RNR (10), FA (9), dan SS (9). Pelaku berusia 55 tahun itu mencabuli korban di dalam tempat ibadah di kawasan Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur.

Wakapolres Metro Jakarta Timur AKBP Stefanus Tamuntuan mengatakan, pengungkapan ini berdasarkan laporan masyarakat. Di mana berdasarkan laporan telah terjadi hal tersebut pada 16 Agustus 2020, sekira pukul 14.30 WIB.

“Pelaku ini adalah sebagai guru ngaji para korban di lokasi,” katanya dalam keterangan yang diterima, Selasa (25/8).

Katanya, saat itu pelaku mengajar ngaji sembari mencabuli korban dengan cara mengelus bagian dada dan bagian intim korban.

“Menekan vagina korban dari luar celana, lalu memasukkan tangan kanan pelaku ke dalam celana dalam korban lalu menekan ke area kemaluan korban,” katanya.

Usai melakukan hal itu, para korban sempat diancam dan meminta jangan bilang kepada siapa pun. Sebab, ia berdalih hal ini dilakukan agar melatih napas korban saat membaca kitab suci.

“Pelaku bilang kepada jangan bilang siapa-siapa ya, soalnya takut salah paham,” ujarnya.

Dalam peristiwa ini, pelaku mengakui perbuatannya. Polisi pun menyita barang bukti korban.

“Pelaku telah diamankan oleh Satreskrim Polres Metro Jaktim saat ini dalam pemeriksaan dan pelaku telah mengakui semua perbuatannya. Pelaku diancam Pasal 76E Jo Pasal 82 UU RI No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No. 23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak,” pungkasnya. [eko]

Kisah Tangan-Tangan Mulia Bantu Sesama yang Miskin dan Tak Berdaya di Garut

Kisah Tangan-Tangan Mulia Bantu Sesama yang Miskin dan Tak Berdaya di Garut

Merdeka.com – Aan Supartini (45) hanya bisa duduk di dalam rumah yang dibangun di atas bantaran rel di Kampung Pedes, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Sudah bertahun-tahun dia menderita penyakit stroke. Tak pernah mendapatkan tindakan medis yang maksimal. Alasannya karena keterbatasan ekonomi.

Dulu Aan adalah pengamen yang bisa berkeliling puluhan kilometer. Mengais rezeki di jalanan Garut. Demi menghidupi anak-anaknya. Suaminya meninggalkannya. Menikah lagi. Sehingga Aan harus berjuang sendiri menghidupi buah hatinya.

Sudah lebih dari 5 tahun terakhir Aan menderita stroke. Pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) Kelurahan Jayawaras, Anggit menceritakan, sebelum mengalami stroke, Aan sempat mengalami stress berat. Sebab anak perempuannya mengalami gangguan jiwa usai pulang dari Jakarta.

“Jadi anaknya dulu memang ada yang mempekerjakan di Jakarta. Saat pulang tiba-tiba ada perubahan yang sangat drastis, bisa dikatakan gangguan jiwa. Kalau info yang beredar, anaknya bu Aan ini dijual di Jakarta dan bisa kabur ke Garut saat oleh majikannya disuruh membeli rokok. Di Garut, anaknya bu Aan ini mengalami gangguan jiwa, bahkan sempat menggugurkan kandungan,” ujarnya.

Aan mengurus anak perempuannya itu. Dia kerap mendengar anaknya meracau. Rupanya kondisi itu membuat pikiran Aan terganggu. Sehingga stress berat, lalu menderita stroke.

Akibat stroke yang dialaminya, Aan mengalami kelumpuhan. Dia sama sekali tidak bisa mencari uang. Hanya bisa duduk di dalam rumah ukuran 4×4 meter tanpa kamar mandi dan toilet. Untuk makan, dia mengandalkan pemberian dari warga sekitar yang peduli kepadanya. Meski mendapatkan PKH, tidak jarang uangnya malah dinikmati oleh suami dan istri barunya.

Aan sempat menjalani perawatan dua kali di rumah sakit. Berbekal fasilitas BPJS. Namun karena tidak punya uang untuk membeli obat yang tidak ada di rumah sakit, akhirnya Aan memilih pulang paksa.

Di rumahnya, Aan tinggal bersama anak laki-lakinya yang bernama Rudi yang bekerja sebagai pemulung. Anaknya yang gangguan jiwa diurus oleh istri Ketua RW kampungnya. Sedangkan anaknya yang lain tinggal bersama mertua Aan yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.

“Kalau sekarang rumah ibu Aan Alhamdulillah sudah layak ditempati dan aja kamar mandi juga toiletnya setelah dibersihkan oleh warga kampung sini. Sebelumnya mah kotor dan bau karena bu Aan ini buang air ya di sana saja karena tidak bisa kemana-mana. Mungkin sudah lama tidak mandi juga. Kemarin saat dibersihkan saya mandikan dan potong rambutnya,” kata Anggit.

Anggit bersama tokoh masyarakat sekitar sempat berupaya memberikan pengobatan kepada Aan dan anaknya yang gangguan jiwa. Untuk pengobatan anaknya Aan, ia pun sempat meminjam ambulans ke lembaga nirlaba untuk membawa ke rumah sakit jiwa di Bogor.

Setidaknya anaknya Aan mendapatkan perawatan selama 23 hari karena pihak rumah sakit hanya bisa menanggung pengobatan selama itu ketika pasien menggunakan BPJS. “Alhamdulillah walau hanya 23 hari ada perubahan yang cukup baik. Tidak banyak teriak-teriak sekarang,” katanya.

Anggit bersama warga lainnya, sempat merasa bingung saat hendak memberikan pengobatan medis kepada Aan. Namun kebingungannya itu terpecahkan setelah Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Garut, Dapot Dariarma mengetahui kondisi Aan dan anaknya itu.

Minggu (23/8), Dapot datang ke rumah Aan dan melihat kondisinya secara langsung. “Saya dapat informasi ada warga yang sakit dan tidak bisa berobat maksimal karena keterbatasan ekonominya jadi saya datang kesini saja langsung,” ujarnya.

Kedatangan Dapot ke rumahnya, awalnya disambut dengan biasa saja. Aan tidak berpikir bahwa dirinya kemudian akan mendapatkan perawatan medis di RSUD dr Slamet Garut. Aan tidak tahu kalau saat itu Dapot membantunya dengan cara berkoordinasi dengan sejumlah pihak yang bisa membantu perawatannya.

Saat itu memang Dapot mengaku langsung berkoordinasi dengan Sekretaris Dinas Kesehatan, dr Leli Yuliani dan dokter di RSUD dr Slamet Garut, dr Zaini Abdallah. “Keduanya menyanggupi membantu bu Aan agar dirawat maksimal di RSUD dr Slamet. Ya kita bersyukur,” akunya.

Saat itu, sejumlah petugas medis dari Puskesmas Haurpanggung pun kemudian datang ke rumahnya Aan. Aan mendapatkan perawatan awal untuk mengetahui kondisinya dan menanyakan tentang riwayat pengobatan.

Setelah diperiksa singkat, dokter Puskesmas memang menyarankan agar Aan mendapatkan perawatan di rumah sakit karena kondisinya yang cukup parah. Awalnya, Aan pun kebingungan karena mengetahui saat dirawat harus keluar uang untuk membeli obat yang katanya tidak dicover BPJS.

Kegembiraan terlihat dari raut wajah Aan. Saat Dapot menyampaikan bahwa seluruh pengobatannya akan gratis. Karena bantuan sejumlah pihak, termasuk Kejaksaan Negeri Garut.

“Ya intinya kita membantu, jangan sampai kemudian yang dibantu malah akan terbebani dengan persoalan lainnya kemudian. Saya sudah koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan RSUD dr Slamet, dan dipastikan kalau hal itu tidak akan terjadi,” jelas Dapot.

Setelah mengetahui hal tersebut, Aan pun langsung bersemangat untuk berobat. Sebelum ambulans dari Puskesmas datang menjemput, dia sudah bergegas menaiki kursi rodanya. Aan kemudian langsung dibawa ke RSUD dr Slamet Garut untuk mendapatkan perawatan.

“Tinggal sekarang PR untuk kita ini pengobatan anaknya bu Aan yang mengalami gangguan jiwa. Kita akan coba koordinasi lagi baiknya seperti bagaimana. Kedepannya, kalau sudah sembuh akan kita dalami kebenaran cerita soal informasi ia dijualnya. Tapi yang penting ya sembuh dulu,” tutup Dapot. [noe]

Kasus Kematian Wartawan Demas, Polisi Dalami Semua Dugaan Motif

Kasus Kematian Wartawan Demas, Polisi Dalami Semua Dugaan Motif

Merdeka.com – Kasus Kematian Wartawan Demas, Polisi Dalami Semua Dugaan Motif

Polres Mamuju Tengah akan mendalami semua dugaan motif terkait kematian mengenaskan wartawan Demas Laira (28) yang diduga kuat terkait tulisannya. Enggan berspekulasi, aparat tidak ingin hanya fokus pada satu dugaan motif saja.

Kapolres Mamuju Tengah, AKBP Muhammad Zakiy yang dikonfirmasi, Sabtu (22/8) malam mengatakan, semua dugaan motif didalami. Dari sisi jurnalisti atau pekerjaan korban, sisi pribadinya misalnya hubungan dengan teman-temannya dan keluarganya. Termasuk kegiatan korban di luar daerah beberapa hari terakhir sebelum kejadian.

“Kita tidak mau berspekulasi. Belum menyimpulkan apa-apa karena ini baru dua hari kita kerja pasca kejadian. Semua dugaan motif kita dalami. Betul-betul kita mencari fakta yang bisa betul-betul membuat terang masalah ini,” kata Zakiy.

Untuk mengungkap motif dan menangkap pelaku, Kapolres mengatakan pihaknya dibantu tim dari Polda Sulbar dan membagi tiga tim penyidik. Ada yang di Kota Mamuju, di Kabupaten Mamuju Tengah dan ada di Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

“Tim ini ada yang mencari tahu masalah pribadi, pertemanan korban, kelompok-kelompok dan kegiatannya termasuk yang di Palu. Ada tim yang ke Palu karena sejak tanggal 17 Agustus, korban pamit ke orang tuanya menuju Palu untuk mengikuti kegiatan komunitas motornya. Semoga dari Palu, dapat tambahan informasi,” ujarnya.

Zakiy menjelaskan, barang bukti yang ditemukan sangat minim, khususnya di TKP. Di antaranya hanya ada dompet, id card dan juga satu sepatu. Soal sepatu ini, bukan milik korban tapi belum juga dipastikan itu milik pelaku karena korban ditemukan di pinggir jalan lintas Sulawesi.

Ditambahkan, ponsel dan kamera korban tidak ditemukan padahal kedua barang ini bisa memungkinkan bisa ditemukan petunjuk khususnya ponsel.

“Kita lagi cari ponsel korban, sementara ditracking. Dari ponsel itu bisa jadi ada petunjuk,” ujarnya.

Sejumlah saksi kerabat dekat dan teman korban sudah dimintai keterangan. Tapi khusus kedua orang tuanya belum diperiksa karena masih dalam suasana duka.

“Apalagi jenazah korban baru akan dimakamkan Senin lusa karena akan di rangkaian dengan ibadah dan mungkin juga karena ada keluarga yang ditunggu. Rencananya Senin itu, saya juga akan hadir saat pemakaman korban,” pungkas Kapolres.

Demas Laira (28) wartawan sebuah media online di Mamuju Tengah ditemukan tewas dengan sejumlah luka tikaman di tubuhnya. Jasadnya ditemukan di pinggir jalan poros Sulawesi wilayah Dusun Salu Bijau, Desa Tasokko, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Sulbar) pada Kamis (20/8) sekitar pukul 02.00 WITA.

Polisi yang datang ke lokasi penemuan jasad wartawan tersebut melakukan olah tempat kejadian perkara untuk menyelidiki penyebab kematian korban. Di lokasi kejadian tersebut, polisi menemukan sejumlah barang milik korban di antaranya sepeda motor, dompet dan kartu pers.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Mamuju Tengah Inspektur Polisi Satu Agung Setyo Negoro mengatakan, masih melakukan penyelidikan terkait penemuan mayat wartawan tersebut.

Polisi masih mendalami kasus ini. Apakah korban tewas terkait dengan profesinya atau ada penyebab lainnya. “Jenazah korban sudah diambil oleh pihak keluarganya. Terkait penyebab kematian, kami masih terus melakukan penyelidikan dan meminta keterangan sejumlah saksi,” tambah Agung. [bal]

PDIP Ajak Masyarakat Bersatu Dukung Pemerintah Menangani Covid-19

PDIP Ajak Masyarakat Bersatu Dukung Pemerintah Menangani Covid-19

Lepas. com – Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ) di tingkat akar rumput langsung menggelorakan semangat persatuan dan berkontribusi dalam menghadapi pandemi Covid-19. Lupa satunya DPC PDIP Aceh Mengadukan.

Ketua DPC PDIP Aceh Utara mengatakan pihaknya menolong pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangan Covid-19 lewat edukasi dan menyalurkan masker gratis untuk masyarakat.

Menurutnya, aksi yang dilakukan kader PDIP merupakan bentuk dukungan kepada pemerintahan Jokowi dalam memutus tanda rantai penyebaran Covid-19.

“Di bulan kemerdekaan ini kami mengajak semua pihak bersatu buat mendukung program pemerintah dalam menanggulangi Covid-19. Melawan Covid adalah tugas bersama. Mari kita saling topang, ” kata Azhar, Jumat (21/8).

Azhar juga mengimbau semua pihak mengikuti imbauan dan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.

Sebab, sendat dia, Covid-19 merupakan pandemi yang dapat menginfeksi siapa saja, tanpa mengenal jabatan, usia, jenis kemaluan, dan bangsa.

“Semoga pandemi ini cepat berlalu. Beta berharap semua elemen masyarakat bisa bersatu menghadapi pandemi ini, ” kata Azhar. [ray]