Kejati Sulbar Dalami Kasus Pengadaan Seribu Bibit Kopi Mamasa Rp9 Miliar

Merdeka. com porakporanda Lasus logistik sejuta bibit kopi di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat tahun 2015, yang sebelumnya disidik oleh Kejati Sulawesi Selatan (Sulsel), serta menyeret salah seorang pejabat dalam Kabupaten Mamasa menjadi tersangka masih diproses. Dikabarkan, kasus ini sudah diambil alih oleh Kejati Sulawesi Barat (Sulbar) kelanjutan penyidikannya.

Dikonfirmasi kepada Kejati Sulawesi Barat, Johny Manurung kepada Mmerdeka. com, penanganan kasus pengadaan sejuta bibit kopi di Provinsi Sulawesi Barat, sebelumnya ditangani oleh Kejati Sulsel, sebelum terbentuk Kejati Sulbar. Namun, karena Provinsi Sulbar sudah memiliki Kejati baru, akhirnya semua penyidikan kasus Korupsi yang sebelum mungkin ditangani oleh Kejati Sulsel, sekarang dipindahkan penanganannya di Kejati Sulbar.

“Iya kasus tersebut ada, tenang aja, kita tunggu dalam waktu dekat ini biar saya gelar. Mari bersama kawal pembangunan Sulbar, supaya lebih lulus dan sukses, ” kata Johny kepada merdeka. com, yang mengiakan sudah diekspos, Rabu ( 30/9 ).

Seperti diketahui kasus pengadaan sejuta bibit contoh sebelumnya sudah memiliki tersangka mulia orang. Dikutip dari Liputan6. com, mantan Kepala Seksi Penerangan Kaidah (Penkum) Kejati Sulsel, Salahuddin menuturkan, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan kepala juta bibit kopi di Kabupaten Mamasa, tim penyidik Pidsus Kejati Sulsel, sudah menetapkan seorang penguasa Pemerintah Daerah (Pemda) Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) inisial N jadi tersangka.

“Inisial N tersebut berperan sebagai Pejabat Pelaksana Komitmen (PPK) sudah menjadi simpulan, ” terang Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sulsel, Salahuddin, tanggal 30 Maret 2019.

Kegiatan pengadaan 1 juta punca kopi di Kabupaten Mamasa, Sulbar pada tahun 2015 yang dimenangkan oleh PT Surpin Raya diduga mengadakan bibit yang tidak sebati dengan spesifikasi yang tertera pada dokumen lelang. Di mana dalam dokumen lelang disebutkan pengadaan keturunan kopi menggunakan anggaran senilai Rp 9 miliar dan juga disebutkan bahwa bibit kopi unggul harus berasal dari uji laboratorium dengan spesifikasi Somatic Embrio (SE).

Namun dari 1 juta bibit kopi yang didatangkan daripada Jember tersebut, terdapat sekitar 500 ribu bibit kopi yang diduga dari hasil stek batang pupus kopi yang dikemas di di plastik dan dikumpulkan di kawasan Sumarorong, Kabupaten Mamasa. Biaya buatan dari bibit laboratorium diketahui berpindah Rp 4. 000 sedangkan beban produksi yang bukan dari laboratorium atau hasil stek tersebut hanya Rp1. 000. Sehingga terjadi selisih harga yang lumayan besar.

Dari hasil penyidikan dengan dilakukan penyidik Pidsus Kejati Sulsel, pihak rekanan dalam hal tersebut PT. Surpin Raya diduga menjemput bibit dari pusat penelitian contoh dan kakao ( PUSLITKOKA ) Jember sebagai penjamin suplai serta bibit. Diduga bibit dari Puslitkoka tersebut merupakan hasil dari stek. [eko]