Bangun Stamina di Masa Pandemi, Jember Runners Berlari Bersama Difabel Kursi Roda

Merdeka. com – Gerak berlari kini kian semarak pada masa pandemi untuk menjaga kebaikan sehingga daya tahan tubuh mampu tetap terjaga. Hal itu pula yang digalakkan oleh komunitas pelari Jember Runners (JbR) yang menyelenggarakan acara lari bersama pada Minggu (15/11). Mereka juga mengajak mengikuti komunitas difabel, termasuk yang memakai kursi roda, untuk ikut berlari bersama.

“Kita berlari bersama kawan-kawan difabel sebagai catatan sehingga mereka terus bisa beraktivitas bersama masyarakat lain. Dengan berlari, diharapkan, stamina kita terjaga di masa pandemi ini, ” ujar tutur Faizal Yusuf, Kapten Masyarakat Jember Runners (JBR).

Lari bersama dilakukan dengan titik start dari depan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember (FKG Unej). Dengan tetap berupaya mematuhi protokol kesehatan, mereka berlari sejauh sekitar 6 km mengitari jalan sari kota yang ada di sekitar kampus Unej. Ikut berlari juga, 7 difabel kursi roda bergabung komunitas pelari.

“Kawan-kawan difabel kursi roda ikut berlari dengan dibantu para anggota publik pelari dari belakang, ” menguraikan Faizal. Pesan untuk mematuhi adat kesehatan seperti menjaga jarak, penggunaan masker dan cuci tangan serupa diselipkan panitia di sela urusan lari bersama tersebut. Diharapkan kejadian ini turut meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bersama mencegah penularan Covid-19.

Selain difabel status roda, terdapat 15 difabel lain juga ikut serta berlari bergandengan puluhan anggota komunitas pelari. Para difabel non kursi roda itu antara lain dengan kondisi budek dan daksa ringan. Anggota publik Difabel Motor Indonesia (DMI) Jember juga ikut mengawal dari buntut.

“Ada teman-teman tuli dan daksa ringan juga yang ikut berlari. Ini sangat nyata untuk mendorong kampanye inklusi ataupun pembauran seperti yang kita semasa ini kampanyekan, ” tutur Eko Purwanto, Sekretaris DMI Jember sudah acara.

Anto –sapaan akrab Eko Purwanto – berharap acara yang mengandung muatan inklusi bisa semakin digalakkan. “Ini bisa memotivasi bahwa difabel juga mampu hidup dan berkarya sama secara masyarakat pada umumnya, ” mengakhiri Anto yang juga menjadi bagian Dewan Pembina Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca) Jember ini.

Seiring dengan perubahan istilah luka menjadi disabilitas, kepanjangan nama sistem ini kemudian diubah menjadi Persatuan Penyandang Disabilitas dan Advokasi Jember dengan akronim tetap Perpenca. [bal]