44 WNA di Jakpus Melebihi Kerelaan Masa Tinggal

Merdeka. com – Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Jakarta Pusat Barron Ichsan mengatakan telah menangkap 44 Warga Negara Asing (WNA) yang seluruhnya melanggar Peraturan Keimigrasian yakni melebihi izin kala tinggal atau overstay.

“Dari operasi yang dilaksanakan. Tim Pengawasan Orang Asing (Pora) praja administrasi Jakarta Pusat berhasil menyembunyikan 44 orang WNA, seluruhnya laki-laki, ” ujar Barron di Biro Imigrasi Jakarta Pusat, Kamis (28/8) malam.

Operasi dengan digelar Tim Pora Kantor Imigrasi Jakarta Pusat itu dilakukan pada kos-kosan di Kelurahan Kartini, Ladang Besar pada Kamis malam sebetulnya pukul 19. 00 WIB. Letak itu dipilih karena seringkali menjadi tempat tinggal sementara bagi para masyarakat asing yang menetap di Jakarta Pusat.

Dari 44 WNA yang dijaring sebanyak 23 orang di antaranya berasal daripada Afrika dan tidak memiliki kelengkapan dokumen perjalanan ataupun paspor. Jadi selain diduga melanggar izin tinggal sementara, mereka pun diduga menyelenggarakan Pelanggaran Keimigrasian pasal 119 dan/atau pasal 116 juncto 71 bagian (B).

Sementara sisanya yaitu 17 warga negara Nigeria, 2 warga negara Pantai Gading, dan 2 warga negara Senegal memiliki paspor atau pun dokumen perjalanan namun tetap melanggar preskripsi masa izin tinggal atau overstay yang tercantum dalam pasal 78 Undang-Undang nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian.

“Sebagian besar ini melebihi satu tahun over stay-nya, ” kata Barron.

Barron mengatakan para WNA yang memiliki paspor namun melebihi batas izin tinggal sebab imbas dari Covid-19 seharusnya melangsungkan pelaporan ke kantor imigrasi.

“Karena kami telah mempersiapkan fasilitas izin tinggal darurat buat para warga asing yang tidak bisa pulang ke negaranya, tapi sepertinya ini tidak dilakukan oleh mereka yang ditangkap, ” perkataan Barron membeberkan alasan para WNA itu seharusnya melaporkan keberadaannya walaupun izin tinggalnya telah habis.

Lebih lanjut, Barron mengutarakan pihaknya akan membawa puluhan WNA itu ke Direktorat Jendral Imigrasi untuk ditampung sembari melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Rencana malam ini kita akan serahkan ke Ditjen Imigrasi dulu sebab ruang detensi kami terbatas, ” ujar Barron. [eko]